Selamat Datang di Website Resmi Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh

Hari Ibu Momentum Perempuan Untuk Bangkit Perkuat Ruang Publik

Kategori : Daerah Kamis, 12 Desember 2019 - Oleh rahmad

Banda Aceh | Wakil Ketua Penggerak PKK Aceh Dyah Erti Idawati mengajak untuk memaknai hari ibu dengan semangat berkarya dan siap tampil didepan dalam berbagai aktivitas pembangunan di daerah Aceh. Jangan lagi pernah berpikir bahwa kita kaum ibu hanya bertanggungjawab untuk urusan-urusan rumah tangga.

Kaum Ibu justru harus lebih banyak terlibat dalam pendidikan dan ketahanan ekonomi keluarga. "Bila perlu, para Ibu di Aceh harus siap bersaing merebut jabatan-jabatan publik. Dengan demikian, semangat egaliterian yang dulu pernah diterapkan di Aceh, dapat kembali bergema di era modern ini," kata Dyah saat memberi sambutan pada puncak peringatan Hari Ibu ke-91 yang berlangsung di Anjong Monta, Kamis (12/12/2019).

Menurut Dyah, selama hampir 50 tahun sistem kesultanan di Aceh pernah dipimpin oleh sultanah, termasuk 34 tahun dimasa kepemimpinan Ratu Syafiatuddin. Kerajaan Aceh juga memiliki banyak tokoh perempuan sebagai panglima perang.

"Jadi, kalau berkaca kepada sejarah masa lalu, perempuan Aceh pada dasarnya adalah perempuan pejuang. Namun, di era modern ini peran itu mengalami degradasi," sebut Dyah.

Dyah mengharapakan untuk perlunya memperkuat kembali peran perempuan Aceh di ruang publik.

"Melalui peringatan Hari Ibu ini, kami mengajak perempuan Aceh untuk bangkit bersama-sama, dan terlibat dalam berbagai gerak pembangunan di daerah ini dan di Hari Ibu ini harus dapat memotivasi kaum perempuan di Aceh untuk membuktikan bahwa kinerja perempuan tidak kalah dengan laki-laki," sebutnya.

Momentum Hari Ibu ini, lanjutnya, harus dapat menyadarkan semua perempuan di Aceh, bahwa masalah gender tidak pernah membatasi ruang gerak kita untuk berkiprah di lingkungan masyarakat. Perempuan Aceh juga bisa menjadi gubernur, bisa menjadi bupati/walikota dan menduduki jabatan penting lainnya.

"Suatu saat nanti perempuan Aceh bisa kembali menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan pejuang," tutup Dyah. (wn/ri)