Selamat Datang di Website Resmi Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh

Kerja Keras Penyuluh Pertanian Bantu Tingkatkan Produksi Petani

Kategori : Daerah Minggu, 04 November 2018 - Oleh rahmad

Meulaboh I Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah membuka Jambore Pertanian Aceh II dengan tema "Melalui Jambore Penyuluhan Pertanian Kita Optimasi, Inovasi Teknologi dan Mekanisasi Menuju Aceh Hebat" di halaman Gedung Olah Seni Aceh Barat Meulaboh, Minggu (4/11/2018).

Dalam sambutannya Nova mengatakan merasa bangga dan berbahagia, karena dapat bertemu bertatap muka dengan pejuang pertanian Aceh, para penyuluh pertanian yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota, yang juga mewakili dari 832.229 KK petani yang ada di Aceh.

Pertemuan ini memiliki makna yang sangat penting, karena 43,71% penduduk Aceh bermata pencaharian sebagai petani, baik petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan nelayan.

"Masyarakat akan gaduh bila padi gagal panen, cabe, bawang merah mahal serta telur tidak tersedia di pasar. Untuk itulah, dengan semangat dan kinerja yang ditampilkan para Penyuluh, Insya Allah Produksi Padi kita bisa suplus, bawang dan cabe stabil, serta roda pemerintahan bisa berjalan lancar"jalasnya.

Menurutnya struktur Perekonomian Aceh tahun 2017 masih didominasi tiga sektor utama, yaitu sektor pertanian 29,63 persen, diikuti sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 16,28 persen, serta sektor admini strasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial wajib sebesar 9,99 persen.

Secara makro, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB cukup tinggi, namun secara mikro ada persoalan yang sangat fundamental menyangkut kesejahteraan petani. Pendapatan petani relatif lebih rendah dibandingkan pendapatan penduduk di sektor industri, pengolahan maupun jasa. Hal ini dikarenakan para petani secara umum
melakukan usaha tani hanya sebatas on-farm saja, sedangkan off-farm banyak dilakukan oleh pelaku industri.

Luas rata-rata kepemilikan lahan petani memang berkisar ¼ Ha. luas lahan tersebut masih bisa dioptimalkan, asalkan para petani memiliki pengetahuan tentang teknik pertanian produktif. Seperti padi misalnya, jagung kedelai yang selema ini merosot agar dibangkitkan kembali melalui pemanfaatan lahan tegalan atau tumpang sari dengan tanaman perkebunan. Untuk mencapai ini, maka para penyuluh harus lebih giat bekerja memberikan pencerahan kepada masyarakat petani.

Program Aceh Meugo dan Aceh Troe harus mampu dimaknai oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh melalui peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian dan perkebunan, dengan mengelola sumberdaya alam dan sumber daya manusia melalui intensifi kasi dan ektensifikasi dengan menggunakan inovasi teknologi dan mekanisasi.

"Saya minta Dinas Pertanian dan Perkebunan, agar dapat meningkatkan Produksi Pertanian, terutama Padi, dari capaian produksi tahun 2017 sebesar
2.4 juta ton GKP, menjadi 2,5 juta Ton pada tahun 2018, serta 2,6 Juta Ton target capaian tahun 2019", pintanya.

Pemerintah Aceh giat mewujudkan kedaulatan pangan dalam bentuk cadangan pangan pemerintah berupa persediaan beras 250 ton setiap tahunnya di gudang bulog, serta cadangan pangan masyarakat berupa pengisian 145 lumbung pangan milik masyarakat oleh Dinas Pangan Aceh masing-masing sebanyak 4 ton gabah pada tahun 2018.

Pada sektor kelautan dan perikanan, Pemerintah Aceh berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, petambak, pengolah dan pemasar perikanan melalui pembangunan infrastruktur pelabuhan perikanan serta peningkatan kapasitas nelayan. Seiring dengan itu, kita juga mengembangkan perikanan berbasis kawasan adat dengan harapan dapat membuka peluang kerja dan lapangan usaha.

Selanjutnya, terkait dengan sektor peternakan, dalam rangka meningkatkan produksi bibit sapi masyarakat, kita melaksanakan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting
(UPSUS SIWAB) berupa peningkatan layanan kesehatan hewan, penyediaan pakan berkualitas dan pelayanan inseminasi buatan. Tahun 2018 telah terlaksana inseminasi
buatan sebanyak 46.101 atau melebihi 13,6% dari target sebelumnya sebesar 35.900 ekor. Demikian juga kelahiran pedet (anak sapi) sebesar 20.104 ekor atau 100,29% lebih
dari target yang telah ditetapkan.

Selain itu, Nova menyampaikan bahwa pada tahun 2017, realisasi pencapaian produksi padi Aceh mencapai 2,49 juta ton, meningkat dari tahun 2016 sebesar 13,13% (289.621 ton). Produksi jagung sebesar 22,37% (70.826 ton) dan kedelai terjadi penurunan sebesar 68,37% (15.252 ton).

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2017 mencapai 4,19%, masih dibawah pertumbuhan nasional 5,23%. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2017 mencapai 146,48 Triliun Rupiah atau meningkat 6,69% dari PDRB ADHB tahun 2016 sebesar 137,30 Trilyun Rupiah, dengan PDRB per Kapita tahun 2017 mencapai 28,23 Juta Rupiah. Adapun Kontribusi PDRB Provinsi Aceh pada tahun 2017 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional mencapai 1,06% yang merupakan posisi 19 setelah Provinsi Kalimantan Selatan yang mencapai 1,15%.

"Keberhasilan yang dicapai oleh para petani dalam peningkatan produksi, tidak terlepas dari kerja keras penyuluh pertanian dalam melakukan pengawalan dan pendampingan kepada para petani" jelasnya.

Ditempat yang sama DR. Ir. H. Isran Noor, M.Si ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian mengatakan semangat untuk maju dan berkembang menyampaikan ilmu pengetahuan merubah prilaku petani sangat luar biasa di Indonesia saat ini, bahkan penyuluh pertanian itu tertolong dan terbantu oleh pihak-pihak lain seperti Babinsa yang ikut dalam meningkatkan produksi pertanian.

"mari kita merubah paradigma pangan kita kedepan, penyuluh pertanian memiliki tanggung jawab moral untuk bisa merubah pola makan dan prilaku dalam hal mengantisipasi kebutuhan pangan kita terutama beras, yang penting kita tidak boleh kekurangan karbohidrat"

Dr. Momon Rusmono Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mengatakan dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa dan cepat sekali mau tidak mau penggunaan inovasi teknologi dan mekanisasi harus dikedepankan.

"Saya yakin penyuluh itu ada dilapangan dan menjadi garda terdepan dalam pembangunan petani, jika bukan penyeluh siapa lagi", katanya. (wn/ri)